PENENTUAN BOBOT BADAN SAPI PERANAKAN ONGOLE BETINA BERDASARKAN PROFIL BODY CONDITION SCORE (BCS)

Penulis

  • Iqbal Universitas Pembangunan Pancabudi

DOI:

https://doi.org/10.58432/jittu.v1i1.422

Kata Kunci:

api Peranakan Ongole, Body condition score (BCS), Rumus Modifikasi

Abstrak

ABSTRAK

Sapi PO mempunyai beberapa kelebihan yaitu mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan, sapi ini diperlihara sebagai sapi potong penghasil daging. Beberapa metode telah dikembangkan untuk memprediksi berat badan berdasarkan ukuran linear tubuh. Metode penelitian dengan menggunakan metode deskriptif,dengan cara wawancara kepada peternak dan pengambilan data dengan cara pengukuran panjang badan, tinggi gumba,lingkar dada. Penggunaan rumus modifikasi baru lebih tepat digunakan dalam penentuan bobot badan sapi PO betina di Kecamatan Bahorok, karena selisih berat badan asli tidak terlalu tinggi dengan selisih berat badan menggunakan rumus modifikasi baru dengan nilai rataan sebesar 21,78 dan dengan standar deviasi sebesar 13,20. Rumus Schrool dan rumus Winter Indonesia maupun rumus modifikasi lama tidak akurat digunakan karena rataan selisih dan standar deviasi diantaranya banyak faktor yang mempengaruhi, meliputi faktor lingkungan dan faktor genetik.

Kata Kunci : Sapi Peranakan Ongole; body condition score (BCS); Rumus Modifikasi.

 

ABSTRACT

PO cattle have several advantages, namely being able to adapt to various environmental conditions, these cows are raised as beef cattle. Several methods have been developed to predict body weight based on linear body measurements. The research method used descriptive method, by interviewing breeders and collecting data by measuring body length, gumba height, and chest circumference. The use of the new modified formula is more appropriate in determining the body weight of female PO cattle in Bahorok District, because the difference in the original body weight is not too high with the difference in body weight using the new modified formula with an average value of 21.78 and a standard deviation of 13.20. The Schrool formula and the Winter Indonesia formula as well as the old modified formulas are not accurate to use because the average difference and standard deviation are many influencing factors, including environmental factors and genetic factors.

Keywords: Ongole cross breed cattle, body condition score (BCS), Modification formula

Referensi

Arbi, N. dan Z. Hitam. 1982. Hormon Tumbuhan. Fakultas Peterrakan Universitas Andalas. Padang

Atmadilga, D. 1979. Kedudukan Usaha Ternak Tradisional dan Perusahaan Peternakan. Biro Reaserch dan Afiliansi. Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, Bandung.

Badriyah, M. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan 1. Bandung : CV Pustaka Setia.

Blakely dan Bade.,1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.Setiadi, B. 2001. Beternak Sapi Daging dan Masalahnya. Aneka Ilmu. Semarang.

Ernawati. 2000. Laporan Hasil Kegiatan Gelar Teknologi Manajemen usaha Pemeliharaan Sapi Perah Rakyat. Badan Penelitian dan Pengembangan BPTP Ungaran.

Goshu, G., K. Belihu and A. Berihun. 2007. Effect Of Parity, Season And Year On Reproductive Performance And Herd Life Of Friesian Cows At Stella Private Dairy Farm, Ethiopia. Livestock Research for Rural Development 19 (17).

Gafar , I.B. 2007. Diktat Ilmu Tilik Sapi Potong. Fakultas Peternakan Universitas Udayana,Denpasar.

Harjosubroto W, Astuti JM. 1993. Buku Pintar Peternakan. Jakarta (ID): Grasindo Pane, I. 1993. Pemuliabiakan Ternak sapi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Hafez ESE. 1993. Artificial insemination. Di dalam: HAFEZ ESE. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6th Ed. Philadelphia(US). pp. hlm 424-439

Hadi, P. U. dan N. Ilham. 2002. Problem Dan Prospek Pengembangan Usaha Pembibitan Sapi Potong Di Indonesia. Jurnal Litbang

.Ihsan, M. N., dan S. Wahjuningsih. 2011. Penampilan reproduksi sapi potong di Kabupaten Bojonegoro.

Susilawati, T. 2000. Analisa membran spermatozoa sapi pada proses seleksi jenis kelamin. Disertasi. Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya

Susilawati, T. 2011. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan dengan kualitas dan deposisi semen yang berbeda pada sapi Peranakan Ongole. Jurnal Ternak Tropika. 12 (2) : 15-24.

Susilawati, T. 2013. Pedoman inseminasi buatan pada ternak. Penerbit Universitas Barwijaya Press.Malang.

Siregar, Charles J.P. (2008). Teknologi Farmasi Sediaan Tablet : Dasar–Dasar Praktis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Hal. 90, 98-110.

Siregar, C.J.P, 2003. Farmasi Rumah Sakit Teori & Penerapan. Jakarta : EGC

Subronto dan Tjahajati I. 2004.Ilmu Penyakit Ternak II. Yogyakarta (ID): UGM pr.

Suryabrata, Sumadi. 2005. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi

Susilorini, Tri Eko dan Manik Eirry Sawitri. 2006. Produk Olahan Susu. Depok: Penebar Swadaya.

Toelihere MR. 1979. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Bandung (ID): Angkasa.

Tse dan Wilton (1988). Kepuasan Pelanggan, jilid 2. Edisi ketiga. Klaten : PT. Indeks Kelompok Gramedia.

Wardoyo dan A. Risdian to. 2011. Studi Manajemen Pembibitan dan Pakan Sapi Peranakan Ongole Di Loka Penelitian Sapi Potong Grati Pasuruan. Jurnal Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Islam Lamongan. Lamongan.

Unduhan

Diterbitkan

2022-06-28

Cara Mengutip

Iqbal. (2022). PENENTUAN BOBOT BADAN SAPI PERANAKAN ONGOLE BETINA BERDASARKAN PROFIL BODY CONDITION SCORE (BCS). Jurnal Ilmu Teknologi Ternak Unggul (JITTU), 1(1), 22–31. https://doi.org/10.58432/jittu.v1i1.422